Other Recent Articles

Komentar

SM3T di NTT, Atasi Kendala Kurangnya Guru

By Teguh on Minggu, 05 Februari 2012

Sumba Timur, NTT - Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) baru berusia dua bulan. Program yang diluncurkan pada 10 Desember 2011 di Jatim Expo Surabaya ini bertujuan menjangkau akses peningkatan mutu pendidikan di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal). Untuk melihat perkembangan dan permasalahan dalam pelaksanaan Program SM3T ini, dilakukan monitoring ke daerah yang menjadi fokus SM3T. Monitoring pertama dilakukan dengan mengunjungi Kabupaten Sumba Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada 25-27 Januari 2012.

Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten paling responsif terhadap Program SM3T. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sumba Timur, Obed Hilungara, mengungkapkan bahwa kehadiran SM3T memang diharapkan mampu melapisi kekurangan guru yang selama ini menjadi persoalan pendidikan yang paling mendasar di Sumbawa Timur.

“Kalau kita lihat dari segi guru per mata pelajaran, kita mengalami kekurangan sekitar 1030 guru. Dan bila dilihat dari kualifikasi akademik guru di sini, baru 35% yang terkualifikasi D3. Sementara D4 atau S1 sisanya masih berpendidikan SPG setara. Jadi memang program SM3T ini sangat membantu kami dalam pemenuhan kebutuhan guru tersebut,” ucap Obed.

Kabupaten Sumba Timur sendiri mendapatkan lebih dari 300 guru SM3T yang terdiri dari 241 peserta asal Universitas Negeri Surabaya (Unesa), 60 peserta asal Universitas Negeri Makassar (UNM) dan 37 peserta dari Universitas Negeri Manado (Unima).

Obed pun berharap dampak positif atas kehadiran guru SM3T ini terus berlanjut hingga digelarnya Ujian Nasional (UN), karena tingkat kelulusan UN di NTT selama ini sangat rendah “Dalam penempatan guru-guru SM3T, rata-rata kita tempatkan di Satap (sekolah satu atap) dan SMP yang memiliki kekurangan pada mata pelajaran yang di UN-kan. Harapan kami dengan program SM3T ini dapat mendongkrak naik lagi tingkat kelulusan di NTT”.

Pada kunjungan monitoring di Sumba Timur ini, turut serta Rektor Unesa, Muchlas Samani. Muchlas memaparkan terdapat 241 mahasiswa tamatan Unesa yang ditempatkan di Kabupaten Sumba Timur. Para peserta ini  telah lulus seleksi akademis dan mengikuti pelatihan ketahanmalangan selama 2 minggu, dan belum menikah serta menandatangani surat perjanjian tidak menikah selama masa pengabdian 1 tahun.

Para guru peserta ini mendapatkan gaji sebesar 2 juta perbulan dan tunjangan biaya hidup 500 ribu perbulan. Mereka tidak dijanjikan akan diangkat menjadi PNS, namun mendapat kesempatan untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) seusai pengabdian, dan mendapatkan kesempatan sertifikasi. Setelah itu mereka bebas memilih bekerja di mana saja.

Program SM3T merupakan rangkaian dari Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi sarjana pendidikan yang diawali dengan pengabdian dan penempatan di daerah 3T selama satu tahun. Tahun ini SM3T difokuskan pada Provinsi Aceh, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Papua, dan Papua Barat. (AF)

Category: Berita Pendidikan