You are here: Home » Berita Pendidikan » Mengingat Lagi Wallacea....
KENDARI, KOMPAS.com - Seiring dengan kecenderungan
perubahan global, perubahan habitat karena aktifitas manusia, ancaman
kepunahan spesies dan mimpi buruk pergeseran nilai-nilai sosial,
Universitas Haluoleo (Unhalu) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemdikbud) membangun Museum Wallacea. Pembangunan museum ini
dimaksudkan untuk mengawetkan berbagai kehidupan dan kebudayaan dalam
suatu wadah yang dikemas secara unik, dengan penuh nilai-nilai keilmuan
dan sosial.
"Maka, museum ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan berbagai macam keanekaraganan kehidupan alam dan kebudayaan di sepanjang Garis Wallacea, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya.-- Muzuni
Kepala Museum Wallacea, Muzuni, di Kendari,
Sulawesi Tenggara, mengatakan pada masanya nanti Museum Wallacea dapat
memberikan pemahaman kepada masyarakat umum, ilmuwan dan profesional
tentang kehidupan masyarakat dan kekayaan air di kawasan Garis Wallacea.
Wallacea
atau sebuah wilayah yang terletak di antara dua benua, yakni Asia dan
Australia, dikenal memiliki tingkat endemisitas tinggi dalam hal flora
dan fauna, maupun sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Keunikan serta
keanekaragaman hayati dan budaya yang ditemukan di Garis Wallacea
menjadikan kawasan ini sangat menarik dikunjungi, termasuk lokasi ideal
untuk melakukan penelitian.
Garis Wallacea diambil dari nama
seorang Inggris, Alfred Russel Wallacea, yang memberikan hipotesa
mengenai Wallacea saat dia berkunjung ke Hindia Timur pada awal abad-19
silam. Ia mengemukakan, Sulawesi merupakan pulau yang terletak tepat
di tengah-tengah kawasan Wallacea. Diperkirakan, kawasan Wallacea
melintasi kepulauan Melayu, antara Kalimantan dan Sulawesi, antara Bali
(di Barat), dan Lombok (di timur), hingga kepulauan Raja Ampat di
Papua.
"Maka, museum ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan
berbagai macam keanekaraganan kehidupan alam dan kebudayaan di sepanjang
Garis Wallacea, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhinya," kata Muzuni, di Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat
(6/4/2012).
Museum Wallacea menampilkan 230 foto dokumentasi
kehidupan bawah laut kawasan ini. Museum ini nantinya juga dapat
digunakan sebagai "markas besar" para ilmuwan berbagai bidang keilmuan,
baik dari internal Unhalu, skala nasional, maupun Internasional.
Kepala
Pusat Perikanan Kelautan Pesisir dan Pulau Kecil Museum Wallacea
Unhalu, Baru Sadarun, mengatakan, kawasan Garis Wallacea memiliki
kehidupan bawah laut sangat kaya. Kawasan ini merupakan titik
konsentrasi terumbu karang di dunia. Sedikitnya, kata dia, lebih dari
500 jenis terumbu karang hidup di kawasan tersebut.
"Tidak hanya kuning, di sini ada juga sponge berwarna merah, padahal dalam film kartun sponge berwarna kuning," kata Sadarun.
Di
museum ini juga dipajang beragam jenis terumbu karang, seperti
Ctenactis Sp, Fungia Sp, Glaxea Sp, Platygyra Sp, dan Hydhopora Sp.
Selain itu, banyak juga kerangka hewan khas kawasan ini, salah satunya
adalah Anoa.
Seperti diberitakan, Museum Wallacea baru saja
diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad
Nuh, Kamis (5/4/2012). Dengan mengambil lokasi di lantai 4 gedung
Pascasarjana Unhalu, museum itu diharapkan mampu menjadi pionir dalam
melestarikan dan dokumentasi kekayaan alam serta budaya nasional.
Sumber: edukasi.kompas.com
Category: Berita Pendidikan
Related posts:
If you enjoyed this article, subscribe to receive more great content just like it.









