Other Recent Articles

Komentar

Membangun Budaya Baca dan Tulis Melalui Islamic Book Fair

By Teguh on Senin, 12 Maret 2012

Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh membuka penyelenggaraan Islamic Book Fair (IBF) ke-11, di Istora Senayan, Jakarta, (9/03). Dalam sambutannya, Mendikbud mengatakan, pameran buku seperti IBF merupakan acara yang penting, karena bisa menjadi sarana untuk membangun budaya membaca, menulis, dan berbagi.

IBF kali ini bertemakan “Kuat dan Mandiri dengan Pendidikan Qur’ani”, dan terdapat 2461 buku yang dipamerkan di 396 stand. Penerbit yang berperan serta dalam IBF tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri, seperti Brunei Darussalam, Turki, Arab Saudi, dan Malaysia.

Menteri Nuh mengatakan, Indonesia diberikan bonus demografi berupa jumlah usia produktif yang mencapai puncaknya pada tahun 2010 hingga 2040. “Tidak semua bangsa di dunia ini diberikan bonus demografi,” ujarnya. Usia produktif ini harus bisa dimanfaatkan untuk menanamkan budaya membaca kepada anak-anak. “Harus dirombak, dari budaya mendengar dan melihat, menjadi budaya membaca”.

Dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, Menteri Nuh menuturkan, terdapat banyak cara. Namun yang paling fundamental adalah dengan budaya membaca. “Inilah pentingnya IBF, bukan hanya memamerkan buku, tapi jauh lebih penting untuk membangun budaya membaca”.

Menteri Nuh menilai, buku-buku yang terdapat dalam IBF adalah buku-buku yang bagus untuk membangun karakter anak. Karena itu ia menghimbau masyarakat untuk berdatangan ke IBF. Menteri Nuh berharap, IBF bisa terus berkelanjutan, tidak boleh berhenti. “Tahun depan harus lebih besar lagi. Kalau bisa berskala internasional,” ujarnya.

Category: Berita Pendidikan