You are here: Home » Berita Pendidikan » Membangun Budaya Baca dan Tulis Melalui Islamic Book Fair
Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh
membuka penyelenggaraan Islamic Book Fair (IBF) ke-11, di Istora
Senayan, Jakarta, (9/03). Dalam sambutannya, Mendikbud mengatakan,
pameran buku seperti IBF merupakan acara yang penting, karena bisa
menjadi sarana untuk membangun budaya membaca, menulis, dan berbagi.
IBF kali ini bertemakan “Kuat dan Mandiri dengan Pendidikan Qur’ani”,
dan terdapat 2461 buku yang dipamerkan di 396 stand. Penerbit yang
berperan serta dalam IBF tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi
juga dari luar negeri, seperti Brunei Darussalam, Turki, Arab Saudi, dan
Malaysia.
Menteri Nuh mengatakan, Indonesia diberikan bonus demografi berupa
jumlah usia produktif yang mencapai puncaknya pada tahun 2010 hingga
2040. “Tidak semua bangsa di dunia ini diberikan bonus demografi,”
ujarnya. Usia produktif ini harus bisa dimanfaatkan untuk menanamkan
budaya membaca kepada anak-anak. “Harus dirombak, dari budaya mendengar
dan melihat, menjadi budaya membaca”.
Dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, Menteri Nuh menuturkan,
terdapat banyak cara. Namun yang paling fundamental adalah dengan budaya
membaca. “Inilah pentingnya IBF, bukan hanya memamerkan buku, tapi jauh
lebih penting untuk membangun budaya membaca”.
Menteri Nuh menilai, buku-buku yang terdapat dalam IBF adalah
buku-buku yang bagus untuk membangun karakter anak. Karena itu ia
menghimbau masyarakat untuk berdatangan ke IBF. Menteri Nuh berharap,
IBF bisa terus berkelanjutan, tidak boleh berhenti. “Tahun depan harus
lebih besar lagi. Kalau bisa berskala internasional,” ujarnya.
Category: Berita Pendidikan
Related posts:
If you enjoyed this article, subscribe to receive more great content just like it.









